Negeri ini kaya raya, adalah fakta yang tak terbantahkan. Jika tidak tentu Belanda tak akan betah di sini berlama-lama. Mengerahkan segala daya untuk tetap bertahan, meski akhirnya tergusur juga. Namun negeri kaya, tidak secara otomatis melahirkan orang-orang kaya yang memiliki peran besar dalam perekonomian dunia. Realitasnya banyak orang di negeri ini yang tak kaya, bahkan untuk sekedar mengisi perutnya saja tak mampu, apalagi hingga kenyang. Seperti pepatah, tikus mati kelaparan di lumbung padi. Ironis, namun ini juga adalah fakta. Mengapa ini terjadi, setidaknya terdapat beberapa hal di negeri ini yang dapat penulis petakan, terutama yang berasal dari manusianya sendiri. Meski factor diluar itu memiliki andil yang tak kecil.
1. Mentalitas Miskin
Memiliki segalanya tidak lantas menimbulkan kepercayaan diri yang cukup untuk berpikir dan menyatakan diri sebagai orang kaya. Banyak orang di negeri ini merasa dirinya miskin, dan harus dikasihani. Mereka tidak melihat lagi potensi, bahkan memandang dirinya sendiripun dengan tatapan sinis. Padahal yang ia punya adalah asset, tetapi karena ia lebih memandang hal-hal yang ada di luar dirinya, ia lupa pada dirinya sendiri. Maka yang selalu lahir darinya adalah keluhan, dan prasangka yang membuatnya terus mempersalahkan keadaan.
Persoalan kemiskinan tidak lagi menjadi persoalan kepemilikan, tetapi persoalan pikiran yang pada gilirannya mengkristal menjadi mentalitas. Jika sudah demikian maka jangan harap, mereka mampu melihat peluang dan dapat memanfaatkan kekayaan yang tersedia.
2. Tidak Memiliki Visi
Mereka meyakini, bahwa hidup ini ya hanya seperti ini; dijalani saja. Mereka sepenuhnya pasrah, bukan berserah. Perbedaannya dengan berserah adalah; mereka sudah melakukan semaksimal mungkin apa yang bisa dilakukan, perkara hasilnya sepenuhnya mereka percayakan pada sipemilik kehidupan. Sementara pasrah, hanya menjalani kehidupan dengan meyakini bahwa keadaan ini akan sulit diubah, ya dijalani saja. Orang seperti ini takut sekali untuk bermimpi, takut kalau tak menjadi kenyataan akan lebih menyakitkan, ungkapan yang sering dipakai; kalau ketinggian nanti jatuhnya sakit. Ia merasa nyaman, walau sebenarnya menyakitkan.
3. Manajemen yang Buruk
Minimnya pendidikan, dan kultur instan yang terlanjur meresap menjadi sebagian dari masyarakat ini malas dengan hal-hal yang sedikit rumit. Bahkan untuk sekedar mengatur dan mendisiplinkan dirinya sendiri. Semuanya bisa diatur, sehingga pada gilirannya menjadi serba tidak jelas dan sulit untuk mengembalikannya agar tidak kusut. Main terabas menjadi alternative, namun jelas ini tak menyelesaikan masalah dasarnya, dan tidak memberikan pendidikan apa-apa bagi pembelajaran diri sendiri.
Penulis yakin masih banyak yang dapat digali, tetapi setidaknya tiga hal tersebut adalah penyakit kronis yang harus segera disembuhkan. Persoalan yang kemudian muncul adalah, bagaimana caranya ya?
Like this.
Kaya memang tergantung mentalitas. Uang tidak serta merta menjadikan seseorang kaya.
Materi berlimpah masih kurang pada orang yang selalu merasa miskin, sebaliknya meski pas-pasan orang yang merasa kaya selalu merasa berlebih.